Jakarta -
Dunia pastry dan roti membawanya sukses sebagai baking consultant maupun tenaga pengajar di berbagai kota seluruh Indonesia. Meski begitu, ternyata sang baker masih menyimpan sebuah impian yang belum terwujud. Hmm... kira-kira apa ya?
Tubuhnya yang ramping dan gaya bicara dengan aksen Suroboyo menjadi ciri khas Haryanto. Tiap sesi cooking class selalu diselingi dengan guyonan, penjelasan yang njlimet plus tips-tips penting. Tak heran jika pria yang setia dengan status lajangnya ini selalu jadi favorit para murid atau peserta.
Dunia kuliner memang telah digeluti oleh Haryanto Makmoer sejak bangku kuliah, tepatnya di Akademi Pariwisata Trisakti. Karirnya juga diawali dari bawah dan berkembang atau tepatnya mengalir hingga mencapai kesuksesan seperti sekarang. Bermula menjadi seorang asisten dosen hingga menjadi tenaga penyuluhan roti, donat dan mi bagi ibu-ibu PKK pun pernah dilakoni sang baker kelahiran Surabaya ini.
Bergabung di LKI (Lembaga Kuliner Indonesia) bersama Tuti Soenardi, Hiang Marahimin, dan William Wongso, Haryanto makin mantap menapaki bidang kuliner. Akhirnya pada tahun 1991 acara demo televisi pertamanya dimulai bersama Tuti Soenardi, yang kemudian disusul oleh berbagai acara demo masak baik di layar kaca maupun media cetak.Tak puas begitu saja, Haryanto pun kembali serius menekuni dunia baking dengan belajar di luar negeri seperti Manila, Bangkok dan Perancis. Kini secara rutin ia rajin mengunjungi pameran bakery di manca negara.
Ketika bersama teman-teman LKI itulah mulai terbentuk impian untuk membuat makanan nasional. "Menjadi terkenal dan memiliki karir cemerlang sebenarnya bukanlah impian saya yang utama. Tetapi membuat makanan Indonesia tanpa adanya identitas dari daerah masing-masing itulah impian saya sebenarnya bersama teman-teman di LKI. Jika suatu hari makanan Indonesia (makanan nasional) sudah dikenal oleh banyak orang, barulah saya merasa impian saya benar-benar terwujud," ujarnya sambil tersenyum.
Kini, selain sebagai Technical Service Manager PT. Sinar Meadow Internasional Indonesia, Haryanto juga bekerja sebagai pengajar berbagai kursus dan konsultan bakery-bakery di seluruh Indonesia. Beliau pun tak segan membuka rahasia membuat roti empuk dan enak kepada pencinta detikfood. "Membuat roti yang enak haruslah dengan perasaan gembira dan ide untuk bentuk atau isi bisa dicari dimana saja dan kapan saja," jelasnya.
Bagi Haryanto saat mengajar merupakan saat yang paling menyenangkan. Karena baginya berbagi ilmu kepada banyak orang merupakan kebahagiaan tersendiri. Melayani berbagai pertanyaan dan masalah dari murid atau peserta justru membuatnya makin bersemangat dan bertambah ilmu. Oleh karena itulah ia pun memberikan resep adonan roti manis andalannya yang empuk dan enak khusus buat pencinta detikfood. Nah, selamat mencoba ya!
Adonan Dasar Roti Manis
Bahan: 900 g tepung terigu protein tinggi 100 g tepung terigu protein rendah 15 g instant yeast 5 g bread improver 225 g gula pasir 30 g susu bubuk 100 g telur antero (kuning dan putih) 150 g fresh cream 300 g air es 12 g garam 150 g mentega Cara Membuat:
Aduk semua bahan kering hingga rata dengan mikser roti. Lalu masukkan telur, fresh cream dan air es, aduk dengan kecepatan sedang hingga tercampur rata.
Tambahkan garam, aduk terus hingga hampir kalis. Terakhir barulah masukkan mentega dan aduk hingga kalis.
Angkata donan dari mikser, bulatkan dan tutup dengan selembar plastik dan diamkan selama 30 menit.
Timbang dan bulatkan adonan kecil-kecil kurang lebih 15 menit. Pipihkan adonan, isi dan bentuk adonan sesuai selera, lalu diamkan kembali adonan kurang lebih 90
menit (sampai adonan menjadi 2 kali lipat).
Sebelum dipanggang olesi permukaan roti dengan susu evaporated dan panggang dalam oven bersuhu 180o C selama 20-25 menit.
Tips:
Jaga agar suhu adonan berkisar sekitar 27oC-30oC, jika lebih maka adonan akan menjadi asam.
Saat mengistirahatkan atau mendiamkan adonan, sebaiknya tutup rapat adonan dengan plastik agar permukaannya tidak kering.
Isian roti sebaiknya jangan terlalu banyak agar adonan roti tidak ‘jatuh’ atau kempis bagian tengahnya saat dipanggang.
"Biarkanlah segala sesuatunya mengalir bagaikan air. Karena kadang sesuatu itu makin kita kejar makin kita sulit untuk mendapatkannya," demikian falsafah Haryanto dalam menjalani hidup dan karir.
Palembang bukan hanya terkenal akan pempeknya. Di kota ini, pindang yang terbuat dari ikan dengan kuah asam-asam pedas juga sangat populer. Buktinya rumah makan Pindang Meranjat ini tak pernah sepi pengunjung.